Ketika aku masih berada pada masa-masa awal aku kuliah, beradaptasi dengan lingkungan dan kehidupan yang sama sekali berbeda dengan kehidupan dan lingkungan di sekolah.
Aku merasa bahwa kampus tempat aku merajut ilmu sekarang bagaikan sebuah penjara.
Sebuah penjara yang mengekang naluri dan kesukaanku mempelajari bidang Sastra dan Psikologi yang dulu amat kucita-citakan.
Hingga aku pernah benar-benar terjatuh ke dalam jurang depresi.
Obsesi untuk pergi meninggalkan "rumah kedua" itu semakin besar setelah semester 1 berakhir.
Seperti kisah teman dan saudaraku sendiri yang merasa tidak betah dan tidak nyaman berada di kampusnya pada tahun pertama studi mereka.
Tapi apa yang terjadi pada diriku sekarang?
Saat aku sudah hampir memasuki fase-fase terakhir dari studiku
Saat sekarang aku sudah hampir menyiapkan seluruh prasyarat untuk sidang akhir dan komprehensif
Aku justru merasa seperti akan meninggalkan rumahku sendiri.
Rumah yang dipenuhi dengan berbagai sari kehidupan.
Rumah dimana aku tidak hanya belajar tentang ilmu Ekonomi.
Tapi juga belajar tentang kehidupan.
Tempat dimana aku merasa benar-benar menjadi manusia sebagaimana mestinya.
Tempat dimana aku mulai berpikir bagaimana aku harus hidup dan membangun masa depanku sendiri.
Tempat dimana aku mulai menuangkan inspirasi dalam bentuk tulisan disamping menunaikan tugas kuliah.
Tempat dimana aku mulai membayangkan dan merencanakan masa depanku untuk meneruskan hidup sebagai manusia dewasa.
Tempat dimana aku mulai belajar tentang kedewasaan dan bagaimana cara mencari kedewasaan itu.
Tempat dimana aku mempelajari banyak hal tentang bagaimana cara bersosialisasi dengan berbagai jenis orang.
Tempat dimana aku dibukakan ruang untuk mempelajari ilmu.
Masa-masa terakhirku di "rumah kedua" ini membuatku semakin sedih.
Terkadang aku menitikkan air mata.
Kenapa waktu begitu cepat berlalu?
Kenapa aku harus meninggalkan "rumah kedua" ini?
Tapi aku sadar.
Bahwa aku tidak mungkin menghabiskan hidupku disini terus.
Aku harus meneruskan perjuanganku di tempat lain.
Setelah meninggalkan "rumah kedua" ini.
Dengan membawa gelar Sarjana Ekonomi darimu.
Aku ingin mengucapkan
Terima kasih "rumah kedua"ku.
Aku berjanji.
Ketika aku sudah berada di lain tempat.
Aku pasti akan mengunjungimu lagi.
Senin, 18 Januari 2010
Kamis, 07 Januari 2010
Karyaku dihilangkan Tukang Pos?

31 Oktober 2008, mestinya hari Jumat pada tanggal itu adalah tanggal dimana aku benar-benar meletakkan karya novel pertamaku di penerbit redaksi Gagas Media, tempat aku juga mengorbitkan karya cerpenku sebelumnya.
Selam satu tahun lebih aku terus berhadap dan berdoa agar novel tersebut diluluskan oleh mereka menjadi sebuah buku cerita yang layak dibaca menjadi hiburan untuk kebanyakan orang.
Karyaku itu bukan sekedar roman picisan yang bisa ditulis dalam waktu 1-2 hari.
Kuluangkan waktu sebanyak setengah tahun untuk menyusunnya hingga menjadi setumpuk karya tulis
Yang kalau Engkau membacanya
Mungkin memerlukan waktu sehari penuh.
Tapi apa yang terjadi pada hari Kamis malam kemarin
Benar-benar membuatku bingung
Meski aku tidak sampai berputus asa.
Mereka bilang naskah novelku tak pernah sampai ke meja mereka.
Aku sangat bingung
Dan berpikir aku harus mengirim naskah novel yang sama.
Apa iya jasa pengiriman pos yang menghilangkan naskahku?
Salah mengirimkan?
Kalau memang itu yang terjadi.
aku hanya bisa pasrah dan berharap.
Semoga naskah itu tidak jatuh pada orang yang salah.
Atau terbuang sekalian entah kemana.
Sejak saat ini aku tidak percaya dengan tukang pos.
Selasa, 05 Januari 2010
Nothing Change, But....
Aura tahun baru masih sangat terasa di pekan pertama setelah liburan tahun baru ini, sekilas tidak ada yang berubah di sekitar saya, semuanya tampak normal dan sama saja dengan hari kemarin.
Tetapi seseorang yang hanya saya kenal dari sebuah buku mengatakan bahwa "tidak ada yang berubah kecuali perubahan itu sendiri".
Ada banyak hal yang berubah ketika saya telah mencoba melakukan perubahan dari dalam diri saya sendiri.
Lebih tekun dan gigih dalam mengerjakan Tugas Akhir saya.
Lebih sering mencari literatur dan menyerap pengalaman hidup untuk mencari ide-ide baru dalam novel yang sedang saya kerjakan.
Lebih serius dalam mengerjakan apapun yang harus saya kerjakan.
Dan semuanya terasa lebih menyenangkan daripada saya hanya meratapi kegagalan saya di tahun lalu.
Dan lebih menggairahkan daripada sekedar mengumbar semangat di awal tahun.
Saya tersadar bahwa mencari kesuksesan di tahun yang baru tidak akan cukup hanya dengan bertekad dan menaruh harapan jika perilaku malas di tahun lalu masih saja dilakukan.
Berusaha dan bekerja keras mengerjakan apa yang bisa dikerjakan jauh lebih efektif untuk mencapai kesuksesan yang dipatri di awal tahun itu.
Tetapi seseorang yang hanya saya kenal dari sebuah buku mengatakan bahwa "tidak ada yang berubah kecuali perubahan itu sendiri".
Ada banyak hal yang berubah ketika saya telah mencoba melakukan perubahan dari dalam diri saya sendiri.
Lebih tekun dan gigih dalam mengerjakan Tugas Akhir saya.
Lebih sering mencari literatur dan menyerap pengalaman hidup untuk mencari ide-ide baru dalam novel yang sedang saya kerjakan.
Lebih serius dalam mengerjakan apapun yang harus saya kerjakan.
Dan semuanya terasa lebih menyenangkan daripada saya hanya meratapi kegagalan saya di tahun lalu.
Dan lebih menggairahkan daripada sekedar mengumbar semangat di awal tahun.
Saya tersadar bahwa mencari kesuksesan di tahun yang baru tidak akan cukup hanya dengan bertekad dan menaruh harapan jika perilaku malas di tahun lalu masih saja dilakukan.
Berusaha dan bekerja keras mengerjakan apa yang bisa dikerjakan jauh lebih efektif untuk mencapai kesuksesan yang dipatri di awal tahun itu.
Kamis, 31 Desember 2009
Kenapa Harus Menunggu Akhir Tahun Untuk Membuat Rencana Perubahan?
Kenapa harus menunggu akhir tahun untuk membuat rencana perubahan, bukankah hari esok, satu jam lagi, satu menit lagi, atau bahkan satu detik lagi kita bisa meneguhkan satu atau banyak tekad untuk berubah?
Boleh saja sih membuat pesta akhir tahun sampai melek tengah malam untuk menyambut tahun baru, tapi apa arti itu semua kalau enggak disertai dengan kesungguhan hati untuk menjadi lebih baik dari hari ini dan hari kemarin?
Waktu terlalu sayang hanya untuk dipakai melakukan kesalahan yang sama berkali-kali, terkadang kita tidak sadar bahwa kita membuang satu kesempatan emas untuk sukses dari sekian banyak waktu yang kita sediakan.
Selamat Tahun baru 2010.
Boleh saja sih membuat pesta akhir tahun sampai melek tengah malam untuk menyambut tahun baru, tapi apa arti itu semua kalau enggak disertai dengan kesungguhan hati untuk menjadi lebih baik dari hari ini dan hari kemarin?
Waktu terlalu sayang hanya untuk dipakai melakukan kesalahan yang sama berkali-kali, terkadang kita tidak sadar bahwa kita membuang satu kesempatan emas untuk sukses dari sekian banyak waktu yang kita sediakan.
Selamat Tahun baru 2010.
Sabtu, 26 Desember 2009
My Wish For My Own Family

Seandainya saya bisa membangun sebuah keluarga (yang tentu saja baru bisa saya lakukan setelah saya menetapkan seorang wanita yang menjadi pendamping hidup saya selamanya), saya enggak berpikir untuk membangun sebuah rumah yang besar, megah, dan bertingkat-tingkat sekalipun saya mampu memiliki atau membangunnya. Saya lebih menyukai sebuah rumah kecil satu tingkat lantai ber-ornamen gaya rumah Jepang atau Eropa Kuno dengan taman yang luas dipenuhi berbagai tanaman dan sebuah kolam ikan kecil da, karena saya percaya semakin besar dan bertingkat satu rumah justru akan semakin menjauhkan hubungan psikologis antara saya dan anggota keluarga saya.
Seandainya saya bisa membangun sebuah keluarga, saya tidak berpikir untuk memiliki banyak anak. Satu sudah cukup. Memiliki satu anak berarti semakin mudah memfokuskan diri saya dalam mencurahkan perhatian dan kasih sayang saya sebagai seorang Ayah, sekaligus menghindarkan diri saya dari masalah sibling rivalry, sekaligus memudahkan saya dalam mengarahkan anak satu-satunya milik saya itu menjadi seseorang yang berguna bagi siapapun, kapanpun, dan dimanapun .
Seandainya saya bisa membangun sebuah keluarga, saya akan berusaha menjadi seorang ayah yang tegas namun berpikiran modern, mencoba untuk selalu memahami kekasih dan anak saya satu-satunya, menjauhkan diri dari pikiran kolot dan otoriter, dan menghargai mereka lebih dari apapun.
Saya tahu ini adalah harapan yang berat untuk ditanggung, namun ketika suatu nanti saya benar-benar menjadi seorang kepala keluarga, mungkin saya harus membuka dan membaca catatan ini sekali lagi.
Sabtu, 19 Desember 2009
Dulu Banyak Orangtua Mengeluh Anaknya Keranjingan Main Game, Sekarang....

Pertengahan tahun 90-an hingga menjelang tahun 2000, adalah masa-masa dimana video game semacam Sega Dreamcast dan Playstation 2 (juga pendahulunya seperti Nintendo dan Playstation) adalah masa puncak popularitas video game, terutama bagi anak usia SD hingga remaja. Fenomena ini jelas menimbulkan keresahan bagi banyak orangtua yang sudah terlanjur memberikan video game untuk hiburan anaknya di rumah. Enggak heran deh kalau akhirnya banyak orangtua dari keluarga berbeda yang melarang anaknya bermain game dengan dalih macam-macam.
Sekitar sepuluh tahun kemudian, tepatnya pada masa kini, muncullah suatu situs jejaring sosial bernama Facebook (beserta pesaing atau saya sebut saja antek-anteknya semacam Twitter, Myspace, dan Friendster). Situs jejaring sosial ini menjadi sebuah fenomena baru, dimana virus popularitas video game sudah tidak sehebat tahun 90-an lagi. Hebatnya, virus Facebook ini enggak hanya menyerang remaja yang secara sosio-psikologis membutuhkan media ekspresi diri, tetapi juga orangtua, terutama wanita usia 40-50 tahunan. Memang, situs jejaring sosial ciptaan Mark Zuckenberg ini membuat banyak kaum dewasa dan paruh baya yang sebelumnya tidak tahu soal dunia jaringan sosial maya, dan banyak orang yang sebelumnya harus saling bertemu dengan cara bertatap muka, kini bisa saling bertemu dengan beberapa "klik" saja.
Tapi, ada satu "fenomena sampingan" dari mewabahnya Facebook (dan situs-situs jejaring sosial lainnya), yaitu menimbulkan ketagihan pada banyak orang dewasa, tidak peduli apakah ibu-ibu atau bapak-bapak. Celakanya, banyak saya temukan kasus anak mengeluhkan dirinya merasa ditelantarkan setelah situs jejaring maya menjadi sebuah "wabah" yang biasa, sampai-sampai saya temukan sebuah video dimana seorang anak perempuan mengeluhkan Ibunya yang sangat senang bermain facebook sampai-sampai menganggap laptopnya pun akan dibawa ke kuburan (celaka! Masa' Ibu sendiri dikatai begitu oleh anaknya sendiri? Tapi itulah kenyataan yang sudah kadung terjadi). Semakin berat bagi anak-anak itu, karena keluhan (bahkan nasihat) seorang anak kebanyakan hampir tidak direspon apalagi dimengerti oleh orangtuanya, bahkan ada orangtua yang memarahi anak-anaknya karena suka mengomentari kebiasaan mereka bermain Facebook. Orangtua bisa saja dengan mudah menasihati atau (bahkan) melarang anaknya bermain game, tetapi seorang anak hampir tidak mungkin menasihati orangtuanya untuk mengurangi frekuensi "bermain" di dunia maya.
Saya tidak bermaksud mengungkapkan bahwa harus ada "kesamaan" diantara anak-anak dan orangtua, karena sejatinya orangtua lebih bijaksana daripada anaknya, tapi sepertinya harus ada yang diperbaiki, bahwa usia sepertinya bukan standar mutlak untuk "membenarkan" semua tindakan yang ada.
Minggu, 15 November 2009
Sampai Kapan Mau Jadi Penyendiri Terus?
Langgan:
Entri (Atom)

